Pengadilan Tinggi
Pukul : 15:51:53 , Selamat Siang !!

img_head
BERITA

PERINGATI HUT KE-68 IKAHI, KETUA PENGADILAN PANDEGLANG SAMPAIKAN PESAN UNTUK SEMUA HAKIM

Mar21

Konten : berita humas
Telah dibaca : 49 Kali


Pandeglang, 18 Maret 2021

Ketua Pengadilan Negeri Pandeglang Yogi Dulhani mengikuti peringatan HUT IKAHI (Ikatan Hakim Indonesia) ke-68 secara virtual.

Peringatan HUT IKAHI diselenggarakan secara virtual oleh Pengurus Pusat IKAHI di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis, 18 Maret 2021.

HUT IKAHI ke-68 berlangsung hidmat dengan menerapkan protokol kesehatan yang diikuti Ketua Pengadilan Negeri Pandeglang Yogi Dulhani, beserta para Hakim jajarannya dan juga Ketua Pengadilan Agama Pandeglang  Evi Sofyah, beserta para Hakim jajarannya di ruang Media Center dalam gedung Pengadilan Negeri Pandeglang mulai pukul 08.00.

"Pada Hut IKAHI kali ini, ada tujuh pesan penting disampaikan Ketua Mahkamah Agung   RI H Muhammad Syarifuddin untuk seluruh hakim," kata Ketua Pengadilan Pandeglang Yogi Dulhani melalui Juru bicaranya Andry Eswin kepada awak media, Kamis,  18 Maret 2021.

Ia mengungkapkan, kalau  H Muhammad Syarifuddin, selaku Ketua Mahkamah Agung RI dan juga  selaku Bapak pelindung IKAHI untuk seluruh Hakim di seluruh wilayah Indonesia berpesan agar sesama hakim harus senantiasa saling mengingatkan satu sama lain agar tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan lembaga.

"Sikap saling mengingatkan untuk tujuan kebaikan harus menjadi budaya di kalangan para Hakim, karena itulah wujud soliditas yang sebenarnya," katanya.

Selain itu, Hakim harus berhati-hati dalam mengekspresikan pikiran, ucapan, dan tindakan di media sosial.

"Belum tentu apa yang kita anggap baik, ditafsirkan baik oleh publik. Bisa saja apa yang kita unggah justru menimbulkan kegaduhan di ruang publik atau menimbulkan ketersinggungan bagi orang lain dan sekelompok orang tertentu," ujar Ketua Pengadilan Negeri Pandeglang menirukan ucapan disampaikan Ketua Mahkamah Agung.

Ketua Mahkamah Agung juga meminta agar Hakim tidak perlu ikut beropini dan memberikan pendapat di media sosial.

Terutama terhadap kondisi sosial atau peristiwa hukum yang terjadi di masyarakat karena bukan tidak mungkin peristiwa tersebut suatu saat akan menjadi perkara di pengadilan. 

Hakim juga tidak perlu menumpahkan keluh kesah dan amarah di media sosial, karena bisa jadi keluh kesah dan amarah yang diunggah terbaca oleh pihak yang sedang berperkara di pengadilan yang perkaranya sedang ditangani.

Oleh karena itu Hakim harus memiliki akhlak dan prilaku yang lebih baik, dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya karena hakim merupakan orang-orang yang dipilih untuk mengemban tugas dan jabatan sebagai Wakil Tuhan di dunia.

 

"Hakim harus senantiasa menunjukan sikap rendah hati dan santun dalam bertindak serta bertutur kata, karena apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan akan menjadi contoh bagi apartur penegak hukum yang lain,"katanya.

Adapun pesan terakhir disampaikan oleh Ketua Mahkamah Agung yakni terkait sebutan atau panggilan Yang Mulia bukan untuk dibangga - banggakan melainkan menjadikannya pengingat.

"Panggilan “Yang Mulia” bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan harus menjadi pengingat bagi kita. Bahwa kemuliaan dari jabatan hakim tidak diukur dari kewenangan dan kekuasaanya yang besar, melainkan diukur dari sikap dan prilaku kitalah yang akan menentukan, layak atau tidak untuk dipanggil Yang Mulia," katanya.

  • Galeri